Jumat, 18 November 2011

Hipotermi Pada Bayi Baru Lahir



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Hipotermia menggambarkan keadaan di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu yang kewalahan dalam menghadapi stressor dingin. Hipotermia diklasifikasikan sebagai kebetulan atau disengaja, primer atau sekunder, dan dengan tingkat hipotermia.
Upaya mencegah hipotermi pada bayi baru lahir sangat penting dan merupakan prioritas agar  bayi terhindar dari kondisi yang tidak dikehendaki.Hipotermi dapat terjadi setiap saat apabila suhu sekeliling bayi rendah dan upayamempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkn dengan tepat, terutama pada masastabilisasi yaitu 6-12 jam pertama setelah lahir. Contoh, terjadi hipotermi karena beberapa hal, seperti : bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir, bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermi. Hal ini disebabkan oleh karena
Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna dan permukaan tubuh bayi relatif lebih luas, tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas, bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar tidak kedinginan. Untuk mencegah terjadinya hipotermia pada bayi baru lahir perlu dilakukan upaya pencegahanyaitu : Ibu melahirkan bayi ditempat yang hangat, Ruangan tempat ibu melahirkan harus hangat dan tertutup dengan sirkulasi udara yang cukup baik serta penyinaran cukup terang,  Segera mengeringkan tubuh bayiBayi lahir dengan tubuh basah oleh ketuban akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayilebih cepat kehilangan panas tubuh, akibatnya dapat timbul serangan dingin(cold stress)Bayi baru lahir yang kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena pusat pengatur suhunya belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hipotermi yang sering tidak terdeteksi oleh ibu atau perawat.Untuk mencegah timbulnya serangan dingin tindakan yang dilakukan yaitu : Setelah lahir bayi diletakan pada tempat yang diberi alas haduk kering, bersih dan hangat, Segera keringkan bayi dengan haduk, lakukan dengan tepat mulai dari kepala kemudian seluruh tubuh. Bila handuk basah harus diganti yang kering, bersih dan hangat. Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat bayi diberi topi atau tutup kepala dan diberi kaostangan dan kaos kaki, Segera letakan bayi pada dada ibu. Kontak langsung kulit ibu dan bayi agar mendapatkan kehangatan. Ibu merupakan sumber panas yang baik bagi bayi baru lahir. Menunda memandikan bayi. Memandikan bayi dilakukan setelah suhu tubuh bayi stabil, bayi tampak aktif dan sehat. Memandikan bayi ditunda selama 24 jam setelah kelahiran
  Disengaja hipotermia adalah sebuah negara diinduksi umumnya diarahkan pada pelindung saraf setelah situasi berisiko (biasanya setelah serangan jantung, lihat Hipotermia Terapi) [1] hipotermia Primer adalah karena paparan lingkungan, dengan tidak ada kondisi medis yang mendasari menyebabkan gangguan regulasi suhu. [ 2] hipotermia sekunder adalah suhu tubuh yang rendah akibat penyakit medis menurunkan suhu titik setel.
Banyak pasien telah pulih dari hipotermia parah, sehingga pengenalan dini dan inisiasi prompt dari pengobatan yang optimal adalah yang terpenting. Hipotermia sistemik juga dapat disertai oleh luka dingin lokal (lihat frostbite). Lihat gambar di bawah ini.
Osborne (J) gelombang (V3) pada pasien dengan Osborne dubur (J) gelombang (V3) pada pasien dengan suhu inti rektal 26,7 ° C (80,1 ° F). EKG milik Heather Murphy-Lavoie Rumah Sakit Amal, New Orleans.
Patofisiologi Suhu inti tubuh diatur secara ketat dalam "zona thermoneutral" antara 36,5 ° C dan 37,5 ° C, di luar yang biasanya tanggapan thermoregulatory diaktifkan. Tubuh mempertahankan suhu inti yang stabil melalui produksi menyeimbangkan panas dan kehilangan panas. Pada saat istirahat, manusia menghasilkan 40-60 kilokalori (kkal) dari panas per meter persegi luas permukaan tubuh melalui generasi oleh metabolisme sel, yang paling menonjol di hati dan jantung. Meningkatkan produksi panas dengan kontraksi otot lurik, menggigil meningkatkan laju produksi panas 2-5 kali.
Kehilangan panas terjadi melalui beberapa mekanisme, yang paling signifikan yang, di bawah kondisi kering, adalah radiasi (55-65% dari kehilangan panas). Konduksi konveksi dan account untuk sekitar 15% dari kehilangan panas tambahan, dan respirasi dan account penguapan untuk sisanya. Konduktif dan kehilangan panas konvektif, atau transfer langsung dari panas ke benda atau sirkulasi udara, masing-masing, adalah penyebab paling umum dari hipotermia disengaja. Konduksi adalah mekanisme sangat signifikan kehilangan panas menenggelamkan / perendaman kecelakaan sebagai konduktivitas termal air hingga 30 kali dari udara.
Hipotalamus mengontrol termoregulasi melalui konservasi panas meningkat (vasokonstriksi perifer dan tanggapan perilaku) dan produksi panas (menggigil dan meningkatkan tingkat tiroksin dan epinefrin). Perubahan dari SSP dapat mengganggu mekanisme ini. Ambang batas untuk menggigil adalah 1 derajat lebih rendah dari vasokonstriksi dan dianggap mekanisme upaya terakhir oleh tubuh untuk mempertahankan suhu [3]. Mekanisme untuk pelestarian panas dapat kewalahan dalam menghadapi stres dingin dan suhu inti bisa drop sekunder untuk kelelahan atau glikogen deplesi.
Hipotermia mempengaruhi hampir semua sistem organ. Mungkin efek paling signifikan terlihat pada sistem kardiovaskular dan SSP. Hipotermia menyebabkan depolarisasi penurunan sel pacu jantung, menyebabkan bradikardi. Karena bradikardia ini tidak vagally dimediasi, dapat refrakter terhadap terapi standar seperti atropin. Berarti tekanan arteri dan penurunan curah jantung, dan elektrokardiogram (EKG) mungkin menunjukkan karakteristik gelombang J atau Osborne (lihat gambar di bawah). Sementara umumnya terkait dengan hipotermia, gelombang J mungkin varian normal dan terlihat kadang-kadang dalam sepsis dan iskemia miokard.
Osborne (J) gelombang (V3) pada pasien dengan Osborne dubur (J) gelombang (V3) pada pasien dengan suhu inti rektal 26,7 ° C (80,1 ° F). EKG milik Heather Murphy-Lavoie Rumah Sakit Amal, New Orleans.
Aritmia atrium dan ventrikel dapat hasil dari hipotermia; detak jantung dan fibrilasi ventrikel telah dicatat untuk mulai secara spontan pada suhu inti di bawah 25-28 ° C.
Hipotermia semakin menekan SSP, SSP metabolisme menurun secara linear sebagai inti tetes suhu. Pada suhu inti kurang dari 33 ° C, aktivitas otak listrik menjadi abnormal; antara 19 ° C dan 20 ° C, sebuah electroencephalogram (EEG) mungkin muncul konsisten dengan kematian otak. Jaringan mengalami penurunan konsumsi oksigen pada suhu yang lebih rendah, itu tidak jelas apakah hal ini karena penurunan tingkat metabolisme pada suhu lebih rendah atau afinitas hemoglobin yang lebih besar untuk oksigen digabungkan dengan ekstraksi oksigen gangguan jaringan hipotermia.
Istilah "inti suhu setelah drop" mengacu pada penurunan lebih lanjut dalam suhu inti dan kerusakan klinis yang terkait pasien setelah rewarming telah dimulai. Teori saat ini fenomena didokumentasikan adalah bahwa sebagai jaringan perifer hangat, vasodilatasi memungkinkan darah dingin pada ekstremitas untuk mengedarkan kembali ke inti tubuh. Mekanisme lain mungkin sedang berlangsung juga. Beberapa percaya bahwa turun setelah paling mungkin terjadi pada pasien dengan radang dingin atau hipotermia lama.

B.     Epidemiologi
Frekuensi Amerika Serikat
Akurat memperkirakan kejadian hipotermia adalah mustahil, sebagai rumah sakit pertemuan hanya mewakili "puncak gunung es" dalam bahwa mereka mencerminkan kasus yang lebih parah. Meskipun demikian, jumlah pertemuan gawat darurat untuk hipotermia tumbuh, sebagai angka yang terus bertambah orang mengambil ke luar rumah untuk mencari petualangan. Hipotermia juga merupakan penyakit perkotaan. Masalah sosial dengan alkoholisme, penyakit mental, dan tunawisma menciptakan aliran kasus ini ke dalam kota rumah sakit.
Meskipun kebanyakan kasus terjadi di wilayah negara dengan cuaca musim dingin yang parah, daerah lain dengan iklim yang lebih ringan juga mengalami kasus secara teratur. Hal ini terutama berlaku di iklim yang lebih ringan yang mengalami perubahan iklim yang cepat baik karena perubahan musiman atau hari ke-malam perubahan sekunder untuk ketinggian. Menurut data saat ini, negara-negara dengan tingkat tertinggi kematian keseluruhan untuk hipotermia adalah Alaska, New Mexico, North Dakota, dan Montana.
Jumlah terbesar kasus hipotermia terjadi di perkotaan dan terkait dengan paparan lingkungan dikaitkan dengan alkoholisme, penggunaan narkoba, atau penyakit mental, sering diperburuk oleh tunawisma bersamaan. Hal ini hanya karena fakta bahwa banyak orang yang ditemukan di daerah perkotaan daripada daerah pedesaan.
Sebuah kelompok yang terkena dampak kedua mencakup orang di luar ruangan untuk bekerja atau kesenangan, termasuk pemburu, pemain ski, pendaki, pelaut / kasau, dan perenang.


C.    Mortalitas / Morbiditas
Menurut sebuah studi, secara keseluruhan di-pasien mortalitas pada pasien hipotermia adalah 12%. Kebanyakan orang mentolerir hipotermia ringan (32-35 ° C suhu tubuh) cukup baik, yang tidak terkait dengan morbiditas yang signifikan atau kematian. Sebaliknya, survei multicenter menemukan tingkat kematian 21% untuk pasien dengan hipotermia sedang (28-32 ° C suhu tubuh).
Kematian lebih tinggi pada hipotermia berat (inti suhu di bawah 28 ° C). Meskipun berbasis rumah sakit pengobatan, kematian akibat hipotermia sedang atau berat mendekati 40%. Pasien mengalami infeksi bersamaan untuk akun kebanyakan kematian akibat hipotermia. Komorbiditas lain yang terkait dengan tingkat kematian lebih tinggi termasuk tunawisma, alkoholisme, penyakit kejiwaan, dan usia lanjut.
"Hipotermia Indoor" lebih mungkin terjadi pada pasien dengan komorbiditas medis yang signifikan (alkoholisme, sepsis, hipotiroidisme / hipopituitarisme) dan cenderung untuk membawa hasil lebih buruk dari hipotermia eksposur.
Menurut catatan saat ini, sekitar 700 orang meninggal di Amerika Serikat dari hipotermia utama kecelakaan setiap tahun.
Tingkat mortalitas secara keseluruhan dari hipotermia adalah sama antara Bayi laki-laki dan bayi perempuan. Karena insiden yang lebih tinggi paparan kalangan bayi laki-laki, laik-laki account untuk 65% dari kematian terkait hipotermia.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Hipotermi
Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh di bawah 360C (Dep.Kes. RI, 1994).
Prinsip Dasar Suhu normal bayi, baru lahir berkisar 36,50C ± 37,50C (suhu ketiak). Gejala awal hipotermiaapabila suhu < 360C atau kedua kaki, dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi terabadingin, maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (Suhu 320C ± 360C). Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 320C. Hipotermia menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya metoblis anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen,mengakibatkan hipoksemia dan berlanjut dengan kematian (Saifudin, 2002)
Tubuh mempertahankan suhu relatif stabil dimana produksi panas seimbang dengan kehilangan panas. Biasanya, suhu inti tubuh (bila diukur rektal) adalah 98,60 F atau 370 C. Ketika lingkungan luar terlalu dingin atau panas tubuh menurun produksi, hipotermia terjadi (hipo = kurang + Thermia = suhu). Hipotermia didefinisikan sebagai memiliki suhu inti tubuh kurang dari 950 F atau 350 C.
Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360 C. Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 ± 370C.Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermiaBayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal. Adapun suhu normal bayiadalah 36,5-37,5 °C. Suhu normal pada neonatus 36,5-37,5°C (suhu ketiak). Gejala awal hipotermi apabila suhu <36°C atau kedua kaki & tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayiterasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36°C). Disebut hipotermi berat bila suhu <32°C, diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25°C. (Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, 2001).
Suhu tubuh dikendalikan di bagian otak yang disebut hipotalamus, yang bertanggung jawab untuk mengenali perubahan dalam suhu tubuh dan respon yang tepat. Tubuh menghasilkan panas melalui proses metabolisme dalam sel yang mendukung fungsi tubuh yang vital. Paling panas hilang di permukaan kulit dengan konveksi, konduksi, radiasi penguapan, dan. Jika lingkungan yang semakin dingin, tubuh mungkin perlu untuk menghasilkan panas lebih banyak dengan menggigil (meningkatkan aktivitas otot yang mempromosikan pembentukan panas).
Tetapi jika kehilangan panas lebih besar dari kemampuan tubuh untuk membuat lebih, maka suhu inti tubuh akan jatuh. Sebagai suhu jatuh, tubuh shunts darah dari kulit dan eksposur ke elemen. Aliran darah meningkat ke organ vital tubuh termasuk jantung, paru-paru, ginjal, dan otak. Jantung dan otak yang paling sensitif terhadap dingin, dan aktivitas listrik dalam organ-organ ini melambat dalam menanggapi dingin. Jika suhu tubuh terus menurun, organ mulai gagal, dan akhirnya kematian akan terjadi.
Hipotermia dlam pandangan medis
Pasien pendinginan sebagai bagian dari perawatan medis mereka disebut hipotermia diinduksi atau terapeutik. Meskipun ada potensi manfaat praktek untuk berbagai kondisi, saat ini, hipotermia medis yang paling sering digunakan pada pasien yang telah menghidupkan kembali dari serangan jantung.
Para ilmuwan medis telah menunjukkan bahwa pada pasien yang selamat episode henti jantung karena fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel, pendinginan tubuh untuk 93,20 F (340 C) selama 12-24 jam dikaitkan dengan tingkat kelangsungan hidup lebih baik dan hasil neurologis yang lebih baik.
Sedangkan bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu tubuh dibawah normal (kurang dari 36,50 C). Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir, terutama dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg.
B.     Klasifikasi Hipotermi
Hipotermi dibedakan atas :
1.      Hipotermia Ringan / stres dingin (36 -36,50 C) / 98,6-960 F
Tanda dan Gejala :
·         Menggigil - tidak di bawah kontrol kesadaran
·         Tidak dapat melakukan fungsi motorik yang kompleks (es mendaki atau ski) masih bisa berjalan & bicara
·         Vasokonstriksi ke daerah tepi
2.      hipotermi sedang (32 -360 C) / 95-930 F
Tanda dan Gejala :
·         Aktifitas berkurang, letargis 
·          Tangisan lemah
·         Kulit berwarna tidak rata (cutis malviorata)
·         Kemampuan menghisap lemah
·         Kaki teraba dingin
·         Jika hipotermia berlanjut akan timbul cidera dingin
·         Bingung kesadaran
·         Kehilangan koordinasi motorik halus - terutama di tangan - karena aliran darah perifer dibatasi
·         Kekerasan menggigil

3.      hipotermi berat (dibawah 320 C) / 92-860 (segera mengancam kehidupan)
Tanda dan Gejala :
·         Aktifitas berkurang, letargis 
·         Bibir dan kuku kebiruan
·         Pernafasan lambat
·         Pernafasan tidak teratur
·         Bunyi jantung lambat
·         Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolik 
·         Resiko untuk kematian bayi
·         Menggigil terjadi dalam gelombang, kekerasan kemudian jeda, jeda mendapatkan lagi sampai akhirnya berhenti menggigil - karena output panas dari pembakaran glikogen dalam otot tidak cukup untuk melawan suhu inti terus menurun, tubuh menggigil menutup untuk menghemat glukosa
·         Bayi dlam posisi meringkuk untuk melestarikan panas tubuhnya
·         Kekakuan otot berkembang - karena aliran darah perifer berkurang dan karena penumpukan asam laktat dan CO2 dalam otot
·         Kulit pucat
·         Siswa melebar
·         Tingkat Pulse menurun
·         Pada 900 F tubuh mencoba untuk bergerak ke hibernasi, mematikan semua aliran darah perifer dan mengurangi kecepatan pernapasan dan detak jantung.
·         Di 860 F tubuh adalah dalam keadaan "peti es metabolik."
·         Orang terlihat mati tetapi masih hidup.
Tanda ± tanda stadium lanjut hipotermiaa.
·         Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang 
·         Bagian tubuh lainnya pucatc.
·         Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)(Saifudin, 2002)
Bayi-bayi yang sangat rawan terhadap hipotermi yaitu :
1.      bayi kurang bulan / premature
2.      bayi berat lahir rendah
3.      bayi sakit

C.    Etiologi Hipotermi
Etiologi terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :
1.      Jaringan lemak subkutan tipis.
2.      Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
3.      Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
4.      BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan.(Indarso, F, 2001).
5.      Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalamihipotermi. ( Klaus, M.H et al, 1998).
Berikut penyebab lain terjadinya penurunan suhu tubuh pada bayi :
1.      Penyebab utama
Kurang pengetahuan cara kehilangan panas dari tubuh bayi dan pentingnya mengeringkan bayisecepat mungkin. Ketika bayi baru lahir tidak segera dibersihkan, terlalu cepat dimandikan, tidak segera diberi pakaian, tutup kepala, dan dibungkus, diletakkan pada ruangan yang dingin, tidak segera didekapkan pada ibunya, dipisahkan dari ibunya, tidak segera disusui ibunya.  Bayi berat lahir rendah yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg atau bayi dengaan lingkar lengan kurang dari 9,5 cm atau bayi dengan tanda-tanda otot lembek, kulit kerput. Bayi lahir sakit seperti asfiksia, infeksi sepsis dan sakit berat.
2.      Faktor pencetus terjadinya hipotermia
a.       Faktor lingkungan 
b.      Syok 
c.       Infeksid.
d.      Gangguan endokrin metabolik 
e.       Kurang gizi, energi protein (KKP)
f.       Obat ± obatan
g.      Aneka cuaca
(DepKes RI, 1992)

3.      Resiko untuk terjadinya hipotermia
a.       Perawatan yang kurang tepat setelah bayi lahir
b.      Bayi dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir
c.       Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan prematur 
d.      Tempat melahirkan yang dingin (putus rantai hangat).
e.       Bayi asfiksia, hipoksia, resusitasi yang lama, sepsis, sindrom dengan pernafasan, hipoglikemia perdarahan intra kranial.(DepKes RI, 1992)

D.    Gejala Hipotermi
Gejala awal hipotermi apabila suhu <36°C atau kedua kaki & tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayiterasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36°C). Disebut hipotermi berat bila suhu <32°C, diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25°C. (Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, 2001).
Disamping sebagai suatu gejala, hipotermi merupakan awal penyakit yang berakhir dengankematian. (Indarso, F, 2001). Sedangkan menurut Sandra M.T. (1997) bahwa hipotermi yaitukondisi dimana suhu inti tubuh turun sampai dibawah 35°C.Etiologi terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :1)Jaringan lemak subkutan tipis.
Gejala hipotermia pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut :
1.      Menurunnya suhu tubuh
2.      Letargis
3.      Hipotonus
4.      Kaki dan tangan bayi teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada
5.      Aktivitas berkurang (bayi kurang aktif)
6.      Kemampuan menghisap ASI lemah
7.      Tangisan lemah
8.      Ujung jari tangan dan kaki kebiruan
9.      Bayi tidak mau minum / menetek 
10.  Bayi tampak lesu atau mengantuk
11.  Tubuh bayi teraba dingin.
12.  Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun
13.  Pernapasan megap-megap dan lambat
14.  Timbul sklerema (kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan)
15.  Muka bayi berwarna merah terang

E.     Proses Terjadinya Hipotermi
Mekanisme kehilangan panas / proses terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir menurut teorinya:
1.      Radiasi : dari objek ke panas bayi
Contoh : timbangan bayi dingin tanpa alas
2.      Evaporasi : karena penguapan cairan yang melekat pada kulit
Contoh : air ketuban pada tubuh bayi, baru lahir, tidak cepat dikeringkan.
3.      Konduksi : panas tubuh diambil oleh suatu permukaan yang melekat ditubuh
Contoh : pakaian bayi yang basah tidak cepat diganti.
4.      Konveski : penguapan dari tubuh ke udara
Contoh : angin dari tubuh bayi baru lahir (Wiknjosastro, 1994).
Mekanisme hilangnya panas pada BBL Mekanisme hilangnya panas pada bayi yaitu dengan :
1.      Radiasi yaitu panas yang hilang dari obyek yang hangat (bayi) ke obyek yang dingin.
2.      Konduksi yaitu hilangnya panas langsung dari obyek yang panas ke obyek yang dingin.
3.      Konveksi yaitu hilangnya panas dari bayi ke udara sekelilingnya.
4.      Evaporasi yaitu hilangnya panas akibat evaporasi air dari kulit tubuh bayi (misal cairan amnion pada BBL). (Indarso, F, 2001).

F.     Efek dari Hipotermi bagi Bayi Baru Lahir
Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian. Akibat yang bisa ditimbulkan oleh hipotermi yaitu :
1.      Hipoglikemi
2.      Asidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan metabolisme anaerob.
3.      Kebutuhan oksigen yang meningkat.
4.      Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.
5.      Gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal yang menyertai hipotermi berat.
6.      Shock.
7.      Apnea.
8.      Perdarahan Intra Ventricular. (Indarso, F, 2001).

G.    Tindakan Segera Pada Hipotermia
Segera hangatkan bayi, apabila terdapat alat yang canggih seperti inkubaator gunakan sesuaiketentuan. Apabila tidak tersedia inkubator cara ilmiah adalah menggunakan metode kangurucara lainnya adalah dengan penyinaran lampu.
1.      Hipotermia Sedang
a.       Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih, dapat hangat
b.      Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila ibu dan bayi berada dalam satuselimut atau kain hangaat yang diserterika terlebih dahulu.Bila selimut atau kain mulaimendingin, segera ganti dengan selimut / kain yang hangat
c.       Ulangi sampai panas tubuh ibu mendingin, segera ganti dengan selimut / kain yang hangat. Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara :
1)      Memberi tutup kepala / topi bayi
2)      Mengganti kain / popok bayi yang basah dengan yang kering dan hangat
2.      Hipotermi Berat
a.       Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih, dan hangat
b.      Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru, bila perlu ibu dan bayi berada dalamsatu selimut atau kain hangat
c.       Bila selimut atau kain mulai mendingin. Segera ganti dengan selimut atau lainnya hangatulangi sampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi
d.      Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara :
1)      Memberi tutup kepala / topi kepala
2)      Mengganti kain / pakaian / popok yang basah dengan yang kering atau hangat
Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia. Karena itu ASI sedini mungkin dapat lebihsering selama bayi menginginkan. Bila terlalu lemah hingga tidak dapat atau tidak kuatmenghisap ASI. Beri ASI dengan menggunakan NGT. Bila tidak tersedia alat NGT. Beri infusdextrose 10% sebanyak 60 ±80 ml/kg/liter
e.       Segera rujuk di RS terdekat(Dep.Kes. RI, 1994).
Tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi di dalam inkubator atau melalui penyinaran lampu. Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan setiap orang ialah metode dekap, yaitu bayi diletakkan telungkup dalam dekapan ibunya dan keduanya diselimuti agar bayi senantiasa hangat. Bila tubuh bayi masih dingin, gunakan selimut atau kain hangat yang diseterika terlebihdahulu yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukan berulangkali sampai tubuh bayi hangat. Tidak boleh memakai buli-buli panas, bahaya luka bakar.
Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia sehingga bayi harus diberi ASI sedikit-sedikit dan sesering mungkin. Bila bayi tidak dapat menghisap beri infus glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/kg per hari.
H.    Pengobatan Hipotermi
Pengelolaan Menurut Indarso, F (2001) menyatakan bahwa pengelolaan bayi hipotermi :
1.      Bayi cukup bulan
·         Letakkan BBL pada Radiant Warner.
·         Keringkan untuk menghilangkan panasmelalui evaporasi.
·         Tutup kepala.
·         Bungkus tubuh segera.
·         Bila stabil, dapat segera rawat gabungsedini mungkin setelah lahir bayi dapat disusukan.
2.      Bayi sakit
·         Seperti prosedur di atas [1].
·         Tetap letakkan pada radiant warmer sampai stabil.
3.      Bayikurang bulan (prematur)
·         Seperti prosedur di atas. [1]
·         Masukkan ke inkubator dengan servocontrole atau radiant warner dengan servo controle.
4.      Bayi yang sangat kecil
·         Dengan radiant warner yang diatur dimana suhu kulit 36,5 °C.
·         Tutup kepala.
·         Kelembaban 40-50%.
·         Dapat diberi plastik pada radiant warner.
·         Dengan servo controlesuhu kulit abdomen 36, 5°C.
·         Dengan dinding double. ± Kelembaban 40-50% atau lebih (bilakelembaban sangat tinggi, dapat dipakai sebagai sumber infeksi dan kehilangan panas berlebihan).
·         Bila temperatur sulit dipertahankan, kelembaban dinaikkan.
·         Temperatur lingkungan yang dibutuhkan sesuai umur dan berat bayi.
Mengatasi bayi hipotermi dilakukan dengan cara :
1.      melaksanakan metode kanguru, yaitu bayi baru lahir dipakaikan popok dan tutup kepala diletakkan di dada ibu agar tubuh bayi menjadi hangat karena terjadi kontak kulit langsung.Bila tubuh bayi masih teraba dingin bisa ditambahkan selimut.
2.      bayi baru lahir mengenakan pakaian dan selimut yang disetrika atau dihangatkan diatas tungku.
3.      menghangatkan bayi dengan lampu pijar 40 sampai 60 watt yang diletakkan pada jarak setengah meter diatas bayi.
4.      meminta pertolongan kepada petugas kesehatan terdekat.
5.      dirujuk ke rumah sakit.

I.       Pencegahan Hipotermi
Pencegahan dan Penanganan HipotermiPemberian panas yang mendadak, berbahaya karena dapat terjadi apnea sehinggadirekomendasikan penghangatan 0,5-1°C tiap jam (pada bayi < 1000 gram penghangatanmaksimal 0,6 °C). (Indarso, F, 2001).
Alat-alat Inkubator Untuk bayi < 1000 gram, sebaiknyadiletakkan dalam inkubator. Bayi-bayi tersebut dapat dikeluarkan dari inkubator apabilatubuhnya dapat tahan terhadap suhu lingkungan 30°C. Radiant Warner Adalah alat yangdigunakan untuk bayi yang belum stabil atau untuk tindakan-tindakan. Dapat menggunakanservo controle (dengan menggunakan probe untuk kulit) atau non servo controle (denganmengatur suhu yang dibutuhkan secara manual).
Pencegahan hipotermia merupakan asuhan neonatal dasar agar BBL tidak mengalamihipotermia. Disebut hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 36,50C. Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 ± 37,50C pada pengukuran suhu melalui ketiak BBL mudah sekali terkenahipotermia, hal ini disebabkan karena :
1.      Pusat pengaturan panas pada bayi belum berfungsi dengan sempurna 
2.      Permukaan tubuh bayi relatif luas
3.      Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
4.      Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dari pakaiannya agar ia tidak kedinginan.
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pencegahan hipotermi adalah:
mengeringkan bayi sesegera mungkin, menutup bayi dengan selimut atau topi dan menenmpatkan bayi di atas perut ibu(kontak dari kulit ke kulit). Jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menaruh bayi di atasdada (karena ibu lemah atau syok) maka hal-hal yang dapat dilakukan :
1.      Mengeringkan dan membungkus bayi dengan kain yang hangar 
2.      Meletakkan bayi didekat ibu
3.      Memastikan ruang bayi yang terbaring cukup hangat(Dep.Kes. RI, 1994).
Melakukan tujuh rantai hangat, yaitu :
1.      menyiapkan tempat melahirkan yang hangat, kering, bersih, penerangan cukup.
2.      memberi ASI sedini mungkin dalam waktu 30 menit setelah melahirkan agar bayi memperoleh kalori.
3.      mempertahankan kehangatan pada bayi.
4.      memberi perawatan bayi baru lahir yang memadai.
5.      melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan / perawatan bayi baru lahir.
Menunda memandikan bayi baru lahir :
6.      pada bayi normal tunda memandikannya sampai 24 jam.
7.      pada bayi berat badan lahir rendah tunda memandikannya lebih lama lagi.
Namun pada prinsip dasar mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir dan mencegah hipotermia, adalah sebagai berikut :
1.      Mengeringkan bayi baru lahir segera setelah lahir
Bayi lahir dengan tubuh basah oleh air ketuban. Aliran udara melalui jendela / pintu yangterbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh.Akibatnya dapat timbul serangan dingin (cols stres) yang merupakan gejala awal hipotermia.Untuk mencegah terjadinya serangan dingin, setiap bayi lahir harus segera dikeringkan denganhanduuk yang kering dan bersih (sebaiknya handuk tersebut dihangatkan terlebih dahulu).Setelah tubuh bayi kering segera dibungkus dengan selimut, diberi topi / tutup kepala, kaustangan dan kaki. Selanjutnya bayi diletakkan dengan telungkup diatas dada untuk mendapatkehangatan dari dekapan bayi.
2.      Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh bayi stabil
Untuk mencegah terjadinya serangan dingin, ibu / keluarga dan penolong persalinan harusmenunda memandikan bayi.
a.       Pada bayi baru lahir sehat yaitu lahir cukup bulan, berat > 2.500 gram, langsung menangis kuat, maka memandikan bayi, ditunda selama + 24 jam setelah kelahiran.
b.      Pada bayi lahir dengan resiko (tidak termasuk kriteria diatas), keadaan bayi lemah atau bayidengan berat lahir < 2.000 gram, sebaiknya bayi, jangan dimandikan, ditunda beberapa harisampai keadaan umum membaik yaitu bila suhu tubuh bayi, stabil, bayi sudah lebih kuat dandapat menghisap ASI dengan baik.(DepKes RI, 1992)

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Setelah menyimak uraian diatas maka penulis menyimpulkan sebagai berikut :
1.      Upaya pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir dilakukan dengan benar bila bayi dikeringkan dan melakukan kontak kulit langsung dengan ibu.
2.      Suhu lingkungan selama dan setelah kelahiran sangat besar pengaruhnya pada bayi baru lahir. Semakin dingin ruangan semakin besar terjadinya hipotermi.
3.      Cara terbaik mencegah hipotermi adalah mempertahankan tubuh bayi tetap hangat melalui metode ”kanguru” dan memenuhi kebutuhan kalorinya dengan memberi ASI sedini mungkin (30 menit setelah bayi lahir).
4.      Pencegahan hipotermi sangat mudah dan dapat dikerjakan dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja yang terlibat dalam persalinan dan perawatan bayi.
5.      Penanganan hipotermi lebih sulit dibandingkan pencagahannya karena bila bayi mengalami hipotermi berarti keadaannya sangat berbahaya dengan risiko sakit dan mati meningkat.
6.      Bayi dengan berat lahir rendah mudah terkena hipotermi karena pusat pengatur suhu belum berfungsi baik, kehilangan panas melalui permukaan kepala lebih besar, karena permukaan kepala bayi lebih luas daripada bagian tubuh lainnya dan lapisan lemak bawah kulit tipis.


B.     Saran
Setelah penulis mencermati maka penulis berpendapat bahwa hipotermi pada bayi baru lahir perlu mendapat perhatian dari para petugas kesehatan dan khususnya calon ibu yang akan memiliki anak. Mereka perlu memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara memperlakukan bayi pertama kali ketika lahir.
Penanganan yang salah terhadap bayi bisa menyebabkan dampak negatif bagi mereka. Sebagai contoh terjadinya hipotermi pada bayi disebabkan oleh kebiasaan / perilaku yang salah seperti mengeringkan dan membersihkan tubuh bayi menunggu setelah plasenta lahir, memandikan bayi dilakukan segera setelah lahir, membersihkan lemak bayi segera setelah lahir, memercikkan air hangat / air dingin / air kembang / minyak wangi pada bayi baru lahir yang tidak menangis (untuk merangsang pernafasan), mengosok tubuh bayi dengan minyak kayu putih / obat gosok, bayi baru lahir tidak segera didekapkan / dipisah / tidak segera disusui oleh ibunya. Semua kebiasaan diatas justru mengakibatkan penurunan suhu tubuh pada bayi.
Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir. Oleh karena itu para petugas kesehatan harus melakukan tindakan pencegahan terjadinya hipotermi di tingkat pelayanan dasar. Sebaiknya para petugas kesehatan memiliki penguasaan dalam mencegah dan menangani hipotermi pada bayi baru lahir untuk memberikan dampak positif yang sangat berarti dalam mencegah terjadinya kematian. Begitu pula dengan ibu, penolong persalinan, dan keluarga di rumah yang bisa dengan mudah mencegah terjadinya hipotermi.



DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1994. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga. Departemen Kesehatan RI : Jakarta. 
Depkes RI. 1994. Pedoman Penanganan Kegawatdaruratan Obstektrik dan Neonatal. Departemen Kesehatan RI : Jakarta. 
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal. INPKKR-POGI &YBS ± SP : Jakarta.
Wiknjosastro Gulardi H., dkk. 2007. Asuhan Persalinan Normal. JNPK-KR :  Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Translate

PDF Man